09 November 2015

koas di NeuroPsychiatry

Ga afdol kalo gak cerita stase neuro yang udah lewat sebelum stase psikiatri ini. kenapa? karena sebenarnya aku menunggu stase ini dan aku agak tertarik sebenarnya.
bahagia kali di stase ini, jaganya gak separah di anak. walaupun tugasnya banyak, tapi I still manage to sleep well and study quite hard.

sampe minggu ketiga semua terasa bahagia. Sampai memasuki minggu keempat, semuanya berubah. Seperti biasa, minggu ke 4 SAATNYA UJIAN, midtes dan postes full dalam 1 minggu. Istimewanya lagi, midtes di neuro juga menghadap supervisor penguji one by one, sama kayak postes tegangnya.
Senin-Rabu jadwal midtes, yang mana ini tergantung pengujinya mau kapan. Mulai nunggu-nunggu kapanlah ini penguji ku datang untuk lapor sama beliau untuk ujian midtes. Setiap hari degdegan, Dokter H hari ini datang gak ya, aku ujian hari ini gak ya. Oh gak jadi hari ini, belajar lagi buat besoknya. Oh ga jadi besoknya, belajar lagi buat besoknya lagi. Setiap hari tidur gak tenang, doh ini belum dibaca, itu harus diulang. Sampe hari Selasa, aku belum juga midtes, ternyata penguji yang dijadwalkan berhalangan. Jadilah pengujiku diganti dr. K untuk hari Rabu. Ujian sama dr. K biasanya berlayar (istilah koas untuk ujian yang dirudung ketidakpastian kapan angin kencang mereda dan kapal dapat ditepikan di pelabuhan, halaaah, yang iya berlayar itu gak jelas kapan berakhirnya, tidak selesai dalam satu hari alias bersambung lagi besoknya, gak abis-abis deg-degannya. Suatu kondisi yang tidak diharapkan oleh para koas). Kalau berlayar sama dr.K ini bisa sampai 3 hari. Tapi karena waktu tinggal hari Rabu, aku gak berlayar. Si Wie aja yang ujian sama beliau hari Selasa berlayar sampe Rabu.
Dr.K ini baik ngedzzz. Beliau peduli pencapaian koasnya, karena beliau jg sih penanggungjawabnya. Jadi kita ujian sambil diajarin juga. Masalahnya beliau ini ngujinya detil kali. Kalau jawaban pertanyaannya ada 6 butir, maka enam-enamnya kita harus inget, dan kalau bisa lagi harus berurutan. Dan beliau nanya semuanya, se-mu-a-nya. Tapi kalau kita macet (baca: lupa), beliau kasi tau jawaban yang benernya sambil ada diajarin juga. Tapi beliau objektif. Kalau kita gak hafal-hafal mati amat, bener-bener hafal mati ya, cuma hafal 4 dari 6, urutannya kacau pula, ya jangan harap nilainya sempurna.Ujian midtes dengan dr.K pun selesai dengan baik-baik saja.

Next, POSTES. Postes dijadwalkan Kamis-Jumat. Hampir semua sih pasti postes Kamis. Palingan kalo pengujinya bener-bener gak bisa lah baru Jumat. Dari awal minggu ke-4, dan puncaknya di Rabu malam, kami udah wanti-wanti siapa yang bakal dapat sama penguji killer. Neuro ini terkenal ada 2 yang killer, Prof.H dan dr.KR. Dua-dua nya yang paling sering bikin koas gak lulus. Celakanya, setiap minggunya wajib ada 2-3 dari 10 koas yang sial yang ujian sama beliau berdua. Tapi yang paling killernya sih Prof. H ya. Soalnya beliau ini standardnya tinggi kaleee. Koas yang pintar kali aja ga akan pernah dikasi nilai bagus sama beliau. Nilai paling tinggi dari beliau adalah 70, itu juga jarang. Dari bertahun-tahun beliau jadi penguji, katanya baru 1 orang yang dapat 80. Dapat 75 aja udah sangat langka kali. Paling sering sih beliau ngasi 45-65. Dan beliau gak ragu-ragu buat ngasi nilai postes 10, seperti yang terjadi pada seorang kawan minggu atasku. Pokoknya ujian sama Prof ini adalah momok yang sangat menakutkan. Tujuan kita kalo dapat penguji Prof bukanlah how to get good grade, but how to pass.  Belum lagi ketegangan ketika ujiannya, kita harus jaga tata kromo kali lah. PPDS aja pada nunduk 90 derajat. Dan kita harus hafal mati status neurologi yang 8 halaman, berurutan, lancar tanpa macet, dan paham semua isinya. Kendala di neurologi memang itu, paham aja atau hafal aja gak akan cukup. Kita harus hafal mati, dan juga harus betul-betul paham. Dan sesuai kata-kata temen-temen yang udah lewat neurologi, emang PPDS sih yang ngatur siapa postes sama siapa, seringnya sih gak diundi. So kalo kita banyak tingkah atau mentiko, kita akan dipertemukan dengan Prof atau dr.KR di Postes. Katanya lagi kalau nilai pretes paling tinggi bisa kena sama Prof, makanya banyak yang sengaja pretesnya gak tinggi-tinggi kali. Ada juga katanya, jangan terlalu nampak terlalu menonjol, terlalu rajin, pintar. Tapi apapun itu, tetep harus ada 1 sih yang jadi tumbal.
So malam sebelum ujian, aku merenung lah... Doh siapa lah ini ya yang dapat sama Prof, kasian kali, sial kali, udahlah kau belum tentu bisa lulus, lulus pun kau nilai ko bakalan cuma paspas makan aja. Kalo bisa Prof nya minggu ini lagi di luar kota aja lah, seminar atau apa kek, jangan ada yang kenak sama Prof.

Waktu tidur, aku mimpi ujian sama dr.R, dosen favoritku waktu ngajar blok Neuro di kuliah, soalnya jelas dan humoris. Aku tidur cukup lama, meski terbangun-bangun tiap sejam, dan langsung tetidur lagi (tipikal tidurku biasa kalo mau ujian). Perbekalan belum cukup, tapi gak sanggup lagi begadang.

Paginya... meski udah diwanti-wanti jangan telat, tetap aja aku datang telat. Gak telat-telat amat tapi aku yang terakhir datang diantara 12 orang yang mau postes. Dengan ngos-ngosan aku nelpon Irwanto nanya apa penguji postes udah dibagi. "Udah". Tapi lucu, si wanto gak langsung ngasi tau aku sama siapa, dia ragu-ragu gitu, hawa mulai gak enak. Aku musti nanya dulu barulah dia jawab, "Kau sama Prof Din". Aku gak percaya lah, masi kupikir ini bercanda aja. Kami sering gitu. "Ah seriuslaaa.., tunggu disitu aku udah di tangga". Masi ngos-ngosan aku gabung ke kumpulan konkawan yang mau ujian, muka mereka semua prihatin, "Betulnya aku sama Prof?". Satu aja yang jawab sambil ngangguk, aku lupa siapa. Berikutnya semua teman-teman seperjuanganku ini mulai satu persatu mengeluarkan kata-kata penyemangat dan berusaha memotivasi supaya aku gak down. Aku pun menyendiri di sudut lain di ruangan itu, bersiap mau ngafal mati status neurologi, baca-baca, dan... mwewek lagiiii Haaaaaa. Mata mulai berkaca-kaca. Sampe disini kalo kuingat sih mang agak lebay juga -_- I can encourage myself thousand times with the words inside my head "Whoever he is, he's human too. I shouldn't be too scared" but I just can't hold my tears wak at that time. Bukan takut sebenarnya. Cuman kepikiran aja, kok bisa aku gitu, apa salahku, kok agak sial hari itu. Trus ngerasa gak sepadan juga kalo aku yang ujian sama Prof. Mana belajar baru sedikit, status belum hafal meski udah ulang-ulang terus. Aku gak ada firasat, karena aku ngerasa tingkahlakuku selama koas terhadap residen dan supervisor baik-baik aja, nilai pretes meski belum diumumin aku yakin aku dijajaran yang paling jelek (Dan pas semua nilai diumumin di Jumat juga emang iya jelek).
PPDS yang ngatur pun sebenarnya feel sorry juga, nampak, "Gak papa ya dek. Bisanya itu. Hafal aja status. Lulus nya itu dek. Kalo statusnya dikuasi sempurna, 60 udah ditangan".
Gak berapa lama, dr.Ya, residen pendamping ujian nyariin siapa yang ujian sama Prof. Soalnya dia pun takut juga. Kalo koasnya gak bisa jawab, residen yang bakal ditanya. Kalo residen dan koas performanya gak bagus Prof bisa marah. "Aduh deeek, kekmana ini. Kita dua pula ya. Aku belum belajar lagi. Tapi kau bisa kan, tapi kau pintar katanya". ":o? gak ah Dok, saya gak pintar". Betul-betul gak adil kali lah dunia rasanya waktu itu, awak yang cuma keset-keset lapuk harus menghadapi postes dengan Prof tsb.

dr. K, penguji midtesku yang kebetulan lewat pun sempat menyapa dan nanya "Udah ujian? Ujian sama siapa?". "Belum Dok. Sama Prof saya Dok". Dan dr.K pun tak dapat menyembunyikan wajah sedikit kaget dan prihatinnya meski tak berkomentar apa-apa, matanya berbicara "bisa lulus gak ya itu, kasian juga kalo gak lulus. Ahsudahlah"
Singkat cerita, aku ujian dengan Prof gak sukses-sukses kali, status gak berhasil kuhafal mati, ada yang gak berurutan. Aku gugup parah. Ada soal yang harusnya bisa kujawab, tapi aku terlupa waktu di ruangan Prof. Sekeluar dari ruang Prof, aku langsung ingat -______-. Tapi overall, dibilang buruk kali gak juga. Aku udah pasrah sebenarnya mau lulus atau gak lulus sejak sebelum maupun sesudah ujian. Tapi begitu selesai, aku langsung mewek lageeee huuu uu uu. Meski udah mengisolir diri supaya jangan ada yang liat, satu persatu mereka datang nyemangati aku, dan itu semakin mentrigger tangisanku semakin menjadi-jadi dan enggan untuk berhenti -__- However I'm thankful they are there to cheer me up. Ooo I think that I found  myself some cheerleaders, they are always right there when I need ‘em *Joget.
Singkat cerita lagi, aku lulus, dengan nilai paspasan tentunya, terendah diantara teman-teman lain yang sama-sama ujian. Meski semua orang menyelamati aku karena bisa lulus, tapi batinku masih kecewa juga walaupun bersyukur juga. Tampangku masih belum enak juga. Terlalu nampak kali gak puasnya.
Yang kusesali adalah:
I can not hide intense feelings when facing people. apalagi di suasana yang kekgitu. I barely cried in front of many people -__- too embarrassing. I'm such a crybaby. Lebay anet.
Trus, belajar masi kurang maksimal.
===
PSIKIATRI,
stase yang membuatku menyadari, banyak sekali ternyata orang stress di dunia ini. Banyak yang mempunyai masalah dalam hidup ini. Mostly mereka sakit karena ekonomi kurang, melajang sampai tua, kehilangan pekerjaan, bullying dari teman, and last but not least gara-gara kecanduan NAPZA. Maka hindari hal-hal yang kusebutkan ini. Kurasa semua jiwa punya potensi untuk kehilangan kewarasan, tergantung cara kita menghadapi stressor-stressor yang ada di dalam hidup ini, apapun bentuknya.
“It’s not the load that breaks you down, it’s the way you carry it” kalo kata quote-quote mah. Azeg.


Psikiatri juga udah ujian. Di psikiatri ini diundi. Lagi-lagi kurang beruntung, dapat Prof lagi. Meski Prof mewakilkan ke residen (selalu begitu), tapi sulit juga mendapat nilai yang memuaskan (meski gak separah Prof di Neuro), dengan mood yang juga agak irritable. Psikiatri ini pun 11-12 sama neurologi. Banyak kali ngafalnya, definisi-definisi istilah psikiatri ataupun istilah yang udah biasa kita pake sehari-hari pun ada definisi tertentunya. "Pikiran adalah aliran gagasan, simbol, dan asosiasi yang diarahkan oleh tujuan dimulai oleh suatu masalah atau suatu tugas dan mengarah pada kesimpulan yang berorientasi kenyataan." Filosofis kali. And there're still a lot more, like definisi insight, judgement, perilaku psikomotor, halusinasi, waham, dll. "Halusinasi adalah persepsi yang salah tanpa adanya stimuli eksternal." Something like that lah. Harus dari buku, gak boleh ngarang sesuai pengertian yang kita paham. Pas ujian aku juga sempat kena serangan "Hemmm, ngarang lagi. Jauh kali. Kalo gak tau bilang aja, jangan dikarang".Heeeem. Pasalnya aku ngarang perilaku psikomotor adalah sikap-sikap atau gerakan-gerakan yang ditimbulkan oleh seseorang sebagai suatu respon menghadapai kejadian-kejadian dalam hidupnya. Haha, kayaknya kurang ngena apa lagi coba kan -_-
Gatau lah prognosis ujiannya gimana, dubia.

Ada sih, satu kejadian lucu waktu di psikiatri. Psikiatri ada ngadain senam ceria bareng untuk memperingati world mental health day. Awalnya sih acara funwalk, dan para koas diwajibkan untuk ikut dengan membayar tiket. Namun karena satu dan lain hal, funwalk diganti jadi senam ceria di GOR Cikal kampus, wajib kumpul jam 6 pagi. Acaranya setiap grup terdiri 10 orang, dan ntar ada lomba kekompakan juga, serta lucky draw. Nah, tibalah hari H, sebenarnya aku gak telat-telat bangun amat, cuman hujan (ga terlalu lebat siy), membuatku semakin mager. Dan sama kayak dulu, aku berpikir, halah gak mungkin jam 6, paling juga jam karet. Datanglah aku sekitar jam 7.30 -___- Aku ninggalin parkiran, tergesa-gesa jalan ke arah GOR indoor. Eh setengah jalan, aku nyadar kupon/tiket lucky drawnya tinggal, nanti aku gak boleh masuk pula. Balik lah aku ambil lagi ke parkiran. Baru lanjut lagi jalan ke arah gedung. 3 meter dari pintu masuk gedung, kudengar ada yang teriak pake toa, "KOSONGGG SEPULUHHH (010)... yak, mana dia 010... apakah lagi-lagi tidak ada orangnya?", tanya suara pria dari dalam gedung yang langsung kutangkap sebagai suara host acaranya. Terus aku langsung rada-rada inget dikit doang, kayaknya itu nomerku lah, baru kucek kupon ditanganku, rupanya iya. Trus aku makin mempercepat langkah, malah lari, karena kayaknya si host udah hampir nyerah nunggui empunya kupon 010 muncul. Suasana GOR gelap (ditambah aku pun baru dari luar gedung yang terang), aku pun belum dapat mendeteksi titik pasti lokasi sumber suara (lebih tepatnya aku belum berhasil menemukan sebentuk orang yang memegang mic. kalo suara sih pasti keluarnya dari speaker-speaker di sudut). Jadinya aku datang-datang berdiri di dekat pintu masuk, ngangkat tanganku yang megang kupon tinggi-tinggi sambil dongak sana-sini celingak-celinguk nyari manalah ini host yang manggil, posisi udah agak-agak ke tengah supaya orang-orang pada nampak bahwa akulah empunya kupon 010, gak pedulilah agak-agak malu sikit, siapa tau dapat hempon ato tipi pikir awak, kipas angin pun jadilah.
"Siniiii, siniii.. yak itu dia rupanya orangnya" kata suara toa lagi. Aku pun mulai di arahkan orang-orang sekitar untuk ke tengah, dan akhirnya aku mulai nampak 2 orang host itu. "Tapi aku heranlah nengok dia ini, kita di sini kok dia malah nengok ke arah sana", komentar salah satu host. "Eike baru datang Pak dan belum nampak Bapak tadi" jawab awak dalam hati. Lalu aku diberikan sebuah amplop kecil berpita. Kemudian aku meninggalkan host tapi belum tau mau ke arah mana, masih mencari-cari di mana kumpulan teman-tamanku. Di tengah kebingungan tiba-tiba Wie muncul memanggil dari salah satu kerumunan. Dia pun heran kok aku baru datang langsung menang lucky draw. Kami bukaklah isi amplopnya, rupanya beberapa voucher karaoke. wkwk. Gak seberapa sih, tapi lucu aja baru datang langsung dapat lucky draw. Intinya acaranya tinggal lucky draw, senamnya udah selesai, zonk sedikit karena awak datang mau olahraga tapi olahraganya udah selesai. Dan acaranya rame, salah kali kupikir orang-orang pada ngaret ditambah lagi karena sedang hujan. Orang-orang tetap semangat datang dan cuma aku yang mindsetnya gak disiplin kaliii. Dan aku agak menyesal turut berkontribusi membuat kelompokku jadi enggak lengkap dan pastinya kalah but gapapa sih. Sekitar gak sampe setengah jam kemudian acara selesai dan orang-orang pada bubar. Nyaris aja sia-sia:)

Tidak ada komentar: