11 Maret 2016

Forensik

Well, postingan ini ditulis dua minggu lalu, tapi baru disempatkan posting sekarang..
_______________________________________________________________________________

Forensik stase pertama ku di siklus atas. Overall, lumayan nyantai. Paling hebohnya kalau tiba-tiba ada kasus di hari libur, jadi dipanggil koas di tengah kesantaian. Yeah, pulangnya cepat, masuknya juga gak pagi-pagi amat, jam 8, tapi sistemnya on call.

Ya meskipun forensic sebenarnya larinya ke peradilan, ga hanya kasus kematian melulu, tapi bicara tentang forensik, ga jauh-jauh dengan kematian.
Segimanapun hebatnya anda, secantik/seganteng apapun, sebagus apa pun body anda, serajin-rajinnya anda merawat tubuh anda, ujung-ujungnya kita semua ini jadi mayat juganya. Gak berdaya, hanya seonggok daging yang nantinya masuk tanah dan kemungkinan secara biologi jasad kita akan mengalami pembusukan juga. Ga ada yang bisa disombongkan hidup ini. Jangan bangga kali.
Semua orang pasti menghadapi kematian.
Jadi ya, jalani aja hidup yang sementara ini sebaik-baiknya agar hidup kita yang cuma sebentar ini gak sia-sia. Manusia mati emang cuma ninggalin nama, tapi amal baik kita semasa hidup adalah hal yang pernah terjadi dan membawa manfaat, kelak akan dihitung.

“Mati adalah topik pembicaraan yang paling dihindari oleh orang-orang yang mengejar materi. Dunia ini seperti tidak ada habisnya. Berbuat semaunya. Tidak mempersiapkan diri untuk mati kapan pun…
Tidak pernah aku tahu bagaimana Allah melihat kematian seseorang. Aku tidak ingin menghakimi. Tapi aku tahu, kita semua bisa belajar dari kematian orang lain. Bahwa hidup ini tidak benar-benar selamanya. Bahwa kapanpun kita bisa mati. Lantas mengapa kita tidak menjaga diri kita?
Kita tidak pernah tahu kapan kita mati. Namun kita diberikan keleluasaan untuk memilih jalan kematian kita. Berdoalah semoga Allah menjaga kematian kita dengan cara yang baik. Bila Dia memanggil kita, Dia memanggil kita dalam keadaan terbaik. Aamiin.”

–Hujan Matahari, K Gunadi

Tidak ada komentar: